Calender
May 2014
S M T W T F S
« Sep    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
My post
IPB Badge

Lebaran 2010

Lebaran 2010

Lebaran tahun ini sama dengan tahun tahun sebelumnya “no mudik”. Kalo kata orang sih lebaran gak mudik gak dapet feel_nya,,, Emang sih terkadang suka pengen ikutan temen-temen lain mudik tapi gak punya kampung, sedihnya.

Tapi aku bersyukur meski gak punya kampung tapi tetep bisa kumpul sama keluarga di Jakarta. Sungkeman jadi tradisi dikeluargaku, terharu dan menangis terkadang menemani sungkeman itu.  Kami juga bercerita keadaan yang sudah dialami sebelumnya baik di kampus atau di rumah. Bahkan sesekali kakek, nenek, om dan tanteku ikut nimbrung membicarakan masalah berita yang sedang gempar belakangan ini. Bertambah deh pengetahuanku dari mereka. Bukan cuma itu saja lebaran tahun ini kami pergi nonton bareng keluarga besar, pulangnya makan bareng dan jalan2.

Sebenarnya tahun ini adalah tahun pertama aku gak kumpul lama sama semua keluarga besarku, karena kendala liburan kerja pendek alhasil semua keluarga jauh harus pulang H-3 lebaran.  Biasanya aku hampir seminggu penuh di rumah nenekku bersama dengan keluarga yang lain, tapi gak masalah yg penting bisa tatap muka.

H-3 lebaran tepat saat saudaraku kembali ke tempat tinggal masing-masing, aku pergi berlibur ke arena renang. ini liburan pertamaku dengan kk ipar baruku… n_n

Bukan hanya liburan pertama, tapi juga kami semua dapat masuk arena tanpa bayar tiket masuk alias “GRATIS”. hohoho ngirit uang deh. Selebihnya aku silaturahmi ke tempat2 temen2ku dan jalan bareng deh.

Meski gak punya kampung tapi tetep seneng kok, bersyukur atas apa yang telah diberikan….

KURVA SIGMOID PERTUMBUHAN

Nama               : Adelia Satwoko        Tanggal                       : Selasa, 18 Mei 2010

Nrp                  : A14080009               Bahan Tanaman          : Kacang Jogo (Phaseolus radiatus)

Mayor              : ITSL                          Nama Asisten             : 1. Meri Lestari

Kelompok       : 1                                                                      2. Diana Agustin C

KURVA SIGMOID PERTUMBUHAN

Tujuan Praktikum :

Meneliti laju tumbuh daun sejak dan embrio dalam biji sampai daun mencapai ukuran tetap pada tanaman kacang jogo.

PENDAHULUAN

Pertumbuhan adalah proses bertambahnya ukuran tubuh tumbuhan seperti panjang, lebar, volume dan massa.Pertumbuhan bersifat kuantitatif dan Irreversibel (tidak dapat kembali ke keadaan semula). Pertumbuhan tanaman dapat diukur dengan menggunakan alat auksanometer (http://aansma11.blogspot.com).  Pertumbuhan dapat dibagi menjadi pertumbuhan primer dan pertumbuhan sekunder. Pertumbuhan primer adalah pertumbuhan yang memanjang baik yang terjadi pada ujung akar maupun ujung batang. Pertumbuhan sekunder adalah pertumbuhan yang dapat menambah diameter batang. Pertumbuhan sekunder merupakan aktivitas sel-sel meristem sekunder yaitu kambium dan kambium gabus. Pertumbuhan ini dijumpai pada tumbuhan dikotil.

Dalam proses pertumbuhan terjadi penambahan volume yang signifikan. Seiring berjalannya waktu pertumbuhan suatu tanaman terus bertambah. Proses tumbuh sendiri dapat dilihat pada selang waktu tertentu, di mana setiap pertumbuhan tanaman akan menunjukkan suatu perubahan dan dapat dinyatakan dalam bentuk kurva/diagram pertumbuhan (Latunra, dkk., 2009).

Laju pertumbuhan suatu tumbuhan atau bagiannya berubah menurut waktu. Oleh karena itu, bila laju tumbuh digambarkan dengan suatu grafik, dengan laju tumbuh ordinat dan waktu pada absisi, maka grafik itu merupakan suatu kurva berbentuk huruf s atau kurva sigmoid. Kurva sigmoid ini berlaku bagi tumbuhan lengkap, bagian-bagiannya ataupun sel-selnya (Latunra, dkk., 2009).

HASIL PENGAMATAN

Tabel panjang daun dengan umur tanaman

Umur tanaman
Tanaman 1 Tanaman 2 Tanaman 3 Rata-rata panjang daun
3 3,5 4,8 6,9 5,06
5 9,7 8,7 7,4 8,6
7 10,4 9,5 8,9 9,6
9 11 10 9,5 10,17
12 12,2 11,5 10,2 11,3
15 15,5 15,5 11 11,33
18 28,3 25 23 25,43
21 33 29,5 29,1 30,53
24 54,4 41 31,7 42,37
28 83,1 67,2 44 64,77

PEMBAHASAN

Banyak faktor yang mepengaruhi pertumbuhan di antaranya adalah faktor genetik untuk internal dan faktor eksternal terdiri dari cahaya, kelembapan, suhu, air, dan hormon. Untuk proses perkecambahan banyak di pengaruhi oleh faktor cahaya dan hormon, walaupun faktor yang lain ikut mempengaruhi. Menurut leteratur perkecambahan di pengaruhi oleh hormon auksin, jika melakukan perkecambahan di tempat yang gelap maka akan tumbuh lebih cepat namun bengkok, hal itu disebabkan karena hormon auksin sangat peka terhadap cahaya, jika pertumbuhannya kurang merata. Sedangkan di tempat yang perkecambahan akan terjadi relatif lebih lama, hal itu juga di sebabkan pengaruh hormon auksin yang aktif secara merata ketika terkena cahaya. Sehingga di hasilkan tumbuhan yang normal atau lurus menjulur ke atas (Soerga, 2009).

Suatu hasil pengamatan pertumbuhan tanaman yang paling sering dijumpai khususnya pada tanaman setahun adalah biomassa tanaman yang menunjukkan pertambahan mengikuti bentuk S dengan waktu, yang dikenal dengan model sigmoid. Biomassa tanaman mula-mula (pada awal pertumbuhan) meningkat perlahan, kemudian cepat dan akhirnya perlahan sampai konstan dengan pertambahan umur tanaman. Liku demikian dapat simetris,yaitu setengah bagian pangkal sebanding dengan setengah bagian ujung  jika  titik belok terletak diantara dua asimtot.

Kurva menunjukkan ukuran kumulatif sebagai fungsi dari waktu. Tiga fase utama biasanya mudah dikenali, yaitu fase logaritmik, fase linier dan fase penuaan. Pada fase logaritmik ukuran (V) bertambah secara eksponensial sejalan dengan waktu (t). Ini berarti laju kurva pertumbuhan (dV/dt) lambat pada awalnya. Tetapi kemudian meningkat terus. Laju berbanding lurus dengan organisme, semakin besar organisme semakin cepat ia tumbuh(http://www.unjabisnis.com).

Pada percobaan kurva sigmoid yang telah kita lakukan  didapatkan nilai panjang rata-rata daun untuk melihat pertumbuhan tanaman  berdasarkan umur  tanaman . Setelah dirata-ratakan, didapatkan kurva sigmoid pertumbuhan. Kurva sigmoid biasanya berbentuk S, pada grafik kurva menunjukkan bentuk huruf S pada umur tanaman  12-21 hari. Sebelum hari ke 12 penambahan panjang daun terjadi secara perlahan dan setelah hari ke 21 pertambahan panjang daun terus meningkat namun seiring pertambahan umur tanaman maka pertambahan panjang daun akan berkurang.

KESIMPULAN

Melalui kurva sigmoid kita dapat mengetahui pertumbuhan dari embrio hingga menjadi ukuraan tanaman tetap. Pada awal pertumbuhan dari embrio tanaman akan tumbuh secara perlahan, namun pada umur tertentu dengan nutrisi dan lingkungan yang mendukung tanaman akan mengalami peningkatan pertumbuhan. Setelah itu pertumbuhan tanaman akan berkurang seiring pertambahan umur tamanan.

DAFTAR PUSTAKA

Latunra, A.I., Eddyman, W,F., Tambaru, E., 2007. Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan II. Universitas Hasanuddin, Makassar.

Soerga, N., 2009. Pola Pertumbuhan Tanaman. http://soearga.wordpress.com/.(20 Mei 2010)

[Anonim].Kurva Sigmoid Pertumbuhan.[terhubung berkala].http://www.unjabisnis.com.(20 Mei 2010)

[Anonim]. Pertumbuhan dan perkembangan.[terhubung berkala].http://aansma11.blogspot.com.

(20 Mei 2010)

JAWABAN PERTANYAAN

  1. Pada fase linier, pertambahan ukuran berlangsung secara konstan, biasanya pada waktu maksimum selama beberapa waktu lamanya. Laju pertumbuhan ditunjukkan oleh kemiringan yang konstan pada bagian atas kurva tinggi tanaman oleh bagian mendatar kurva laju tumbuh dibagian bawah. Fase pertumbuhan dalam praktikum ini tergambar dalam kurva sigmoid ketika umur tanaman 3-12 minggu.
  2. Proses pertumbuhan terjadi di daun dalam organ klorofil daun. Dalam reaksi fotosintesis salah satu elemen yang paling penting adalah pigmen tumbuhan. Pigmen yang berada dalam tumbuhan adalah klorofil a dan klorofil b serta karotenoid. Klorofil a berperan menyerap dan menyalurkan energy cahaya ke pusat reaksi untuk mengeksitasi electron. Klorofil b dan karoten berperan sebagai pigmen antena.Kemudian terjadi pembentukan fotosintat (hasil fotosintesis), setelah itu hasil fotosintat diangkut secara aliran masa keseluruh tubuh tumbuhan untuk pertumbuhan tubuh tumbuhan.
  3. Laju pertumbuhan diukur dengan pertumbuhan panjang daun dari embrio hingga dewasa. Jika laju pertumbuhan dinyatakan dalam berat kering, bentuk kurva tidak akan berubah hanya saja nilai dari  laju pertumbuhannya akan berkurang karena tanaman menyusut dan mengurangi panjang tanaman yang diukur.

LAMPIRAN

Contoh kurva sigmoid

www.unggulcenter.co.cc/2009/02/d…men.html

feybelumuru.blogspot.com/2010/02…kan.html

UJI BIOLOGI 2,4-D

Nama               : Adelia Satwoko        Tanggal                       : Selasa,       Mei 2010

Nrp                  : A14080009               Bahan Tanaman          : Biji Mentimun (Cucumis sativus)

Mayor              : ITSL                          Nama Asisten             : 1. Meri Lestari

Kelompok       : 1                                                                      2. Diana Agustin C

UJI BIOLOGI 2,4-D

Tujuan Praktikum :

Menentukan konsentrasi efektig 2,4-D sebagai herbisida dengan menggunakan kurva respon tumbuh akar terhadap logaritma konsentrasi 2,4-D.

PENDAHULUAN

Asam 2,4-D merupakan zat pengatur tumbuh yang banyak digunakan dalam kultur jaringan tumbuhan. Asam 2,4-D adalah salah satu auksin yang berperan dalam pertumbuhan kalus dari eksplan dan menghambat regenerasi pucuk tanaman. Clomazon, kalium MCPA, dan 2,4 D dimetil amina merupakan herbisida dengan persistensi rendah. Menurut  Jatmiko et al. (2002), persistensi adalah lamanya aktivitas biologi herbisida dalam tanah yang merupakan akibat dari penyerapan, volatilisasi, pencucian, dan degradasi biologi ataupun nonbiologi. Pada umumnya persistensi herbisida di dalam tanah lebih pendek daripada insektisida dan bervariasi dari beberapa minggu hingga beberapa tahun, bergantung pada struktur dan sifat tanah    serta kandungan air di dalam tanah. Herbisida persistensi rendah menandakan lamanya aktivitas biologi herbisida dalam tanah termasuk rendah (skripsi.umm.ac.id).

Asam 2,4-D adalah sintetik auksin , yang merupakan kelas pengatur tumbuh tanaman . Diserap melalui daun dan translokasi ke meristems tanaman. Kemudian terjadi pertumbuhan berkelanjutan, menyebabkan batang curl-atas, daun layu, dan akhirnya tanaman mati. 2,4-D biasanya diterapkan sebagai amina garam, tapi lebih banyak golongan ester (www.end.wikipedia.org).

Dibandingkan dengan bahan kimia lain, 2,4-D lebih menguntungkan karena bersifat selektif, residunya mudah hilang, konsentrasi yang dibutuhkan cukup rendah, dan pada konsentrasi tertentu 2,4-D bersifat tidak toksik bagi hewan dan manusia. Terdapat beberapa proses yang mempengaruhi efektivitas penggunaan 2,4-D diantaranya konsentrasi 2,4-D didalam tubuh tanaman, proses translokasi dalam tubuh tanaman, dan sirat toksik yang hanya bekerja pada tingkat selular.

HASIL PENGAMATAN

Tabel Data Panjang Akar

Konsentrasi 2,4-D Rata-rata panjang akar Simpangan Baku Galat Baku
0 6,36 2,3 1,52
0,001 11,09 3,18 1,78
0,01 6,5 4,62 2,15
0,1 3,03 1,16 1,07
1 0,84 0,35 0,59
10 0,45 0,25 0,5
Tidak diketahui 3,47 1,84 1,36

Perhitungan simpangan baku (S2)

S2= Σ (X – Xi)2

n-1

  1. S2 (konsentrasi 0) = (8-6,36)2+(7,4-6,36)2+(6,5-6,36)2+(6,7-6,36)2+(5,2-6,36)2+(3-6,36)2

+(10,4-6,36)2+(8,5-6,36)2+(6,8-6,36)2+(3,9-6,36)2+(9,7-6,36)2+

(7,5-6,36)2+(4,3-6,36)2+(4-6,36)2+(3,5-6,36)

15-1

= 2,3

  1. S2 (konsentrasi 0,001) = (14,4-11,09)2+(12,6-11,09)2+(6,5-6,36)2+…..+(12,6-11,09)2

15-1

= 3,18

  1. S2 (konsentrasi 0,01)    = (13,5-6,5)2+(11,2-6,5)2+(9,8-6,5)2+…..+(0-6,5)2

15-1

= 4,62

  1. S2 (konsentrasi 0,1)     = (3,4-3,03)2+(2,3-3,03)2+(4,4-3,03)2+…..+(0-3,03)2

15-1

= 1,16

  1. S2 (konsentrasi 1)       = (1,2-0,84)2+(1,3-0,84)2+(1,4-0,84)2+…..+(0-0,84)2

15-1

= 0,35

  1. S2 (konsentrasi 10)     = (0,5-0,45)2+(0,7-0,45)2+(0,8-0,45)2+…..+(0-0,45)2

15-1

= 0,25

  1. S2 (tdk diketahui)       = (5-3,47)2+(4-3,47)2+(3,1-3,47)2+…..+(2,4-3,47)2

15-1

= 1,48

Perhitungan Galat baku (S)

S = √S2

  1. S (konsentrasi 0) = √2,3 = 1,52
  2. S (konsentrasi 0,001) = √3,18 = 1,78
  3. S (konsentrasi 0,01) = √4,62= 2,15
  4. S (konsentrasi 0,1) = √1,16 = 1,07
  5. S (konsentrasi 1) = √0,35 = 0,59
  6. S (konsentrasi 10) = √0,25= 0,5
  7. S (Tidak diketahui) = √1,48 = 1,36

Grafik

PEMBAHASAN

Asam 2,4-Dichlorophenoxyacetic Acid yang lebih dikenal dengan sebutan 2,4-D merupakan salah satu bahan aktif herbisida yang banyak digunakan oleh petani. 2,4-D adalah salah satu herbisida yang sudah cukup lama digunakan di Amerika Serikat dan dibuat selama perang dunia kedua dan menjadi sangat terkenal karena merupakan salah satu bahan dasar Agent Orange yang begitu kontroversial selama Perang Vietnam. Sekarang herbisida dengan bahan aktif 2,4-D sangat banyak beredar di pasaran.

Residu pemakaian pestisida, khususnya 2,4-D yang tidak terkontrol di lahan-lahan pertanian merupakan tekanan yang sangat berat bagi ekosistem lingkungan perairan pantai/laut. Dengan demikian dapat digolongkan sebagai bahan pencemar (polutan) sehingga perlu dipikirkan untuk menanggulangi residu yang berbahaya itu (www.abynoel.wordpress.com).

Konsentrasi 2,4-D menjadi salah satu penentu berbahaya atau tidaknya zat tersebut, namun jika digunakan dengan konsentrasi yang sesuai maka akan membantu membasmi hama yang mengganggu pertumbuhan tanaman. Sehingga dengan 2,4-D sebagai herbisida maka tanaman akan tumbuh makin cepat. Hal tersebut terbukti dengan penelitian yang dilakukan dengan mengukur panjang suatu akar tanaman dari biji sampai tanaman kira-kira berumur 1 minggu. Semakin besar konsentrasi 2,4-D hingga suatu titik maksimum maka pertumbuhan tanaman semakin besar (www.digilib.unes.ac.id).

Pada praktikum kali ini praktikan menggunakan biji mentimun yang akan diamati pertumbuhan akarnya hingga berumur 5 hari. Setelah melakukan pengenceran larutan 2,4-D dengan konsentrasi yang ingin di amati, 15 biji mentimun dimasukkan kedalamnya dan disimpan dalam ruangan gelap. Ruang yang gelap akan mempercepat pertumbuhan ke arah horizontal, karena dengan ruang yang gelap hormon auksin akan bekerja secara efektif tanpa gangguan cahaya matahari.

Nilai panjang akar rata-rata pada praktikum bertambah dari konsentrasi yang paling kecil ke konsentrasi yang lebih besar hingga konsentrasi tertentu. Ketika konsentrasi tertentu terjadi penurunan nilai panjang rata-rata akar hingga ke konsentrasi yang paling besar. Hal ini tidak sesuai dengan literatur oleh karena itu dapat disimpulkan terjadi kesalahan dalam praktikum yang telah dilakukan,  kesalahan  tersebut salah satunya adalah kesalahan pengamat dalam melakukan pengenceran konsentrasi sehingga  nilai dari panjang akar tidak sesuai dengan panduan yang ada.

KESIMPULAN

Konsentrasi paling efektif yang dapat digunakan untuk herbisida adalah konsentrasi 0,001 2,4-D. Karena pada konsentrasi ini rata-rata panajang akar pada mentimun memiliki nilai yang paling besar. Semakin besar konsentrasi 2,4-D maka semakin besar pertumbuhan yang terjadi hingga suatu titik konsentrasi tertentu. Panjang akar akan menurun jika konsentrasi berlebihan dan menyebabkan sifat toksik muncul.

DAFTAR PUSTAKA

[Anonim].2008.Ringkasan penelitian. [terhubung berkala]. http://abynoel.wordpress.com.

(24 Mei 2010)

[Anonim].2,4-D.[terhubung berkala]. http://en.wikipedia.org. (24 Mei 2010)

[Anonim]. Skripsi.[terhubung berkala].http://digilib.unnes.ac.id. (24 Mei 2010)

[Anonim].skripsi.umm.ac.id/download.php (24 Mei 2010)

JAWABAN PERTANYAAN

  1. Konsentrasi auksin yang digunakan sebagai herbisida akan maksimal pada titik optimal pemberian auksin2,4-D. Jika pemberian 2,4-D berlebih maka akan berpengaruh pada kondisi tanaman, tanaman akan terhambat pertumbuhannya karena kesulitan dalam menyerap hara yang berada di dalam tanah akibat dari konsentrasi 2,4-D yang berlebih. Sehingga pada titik optimal dari auksin jika masih ditambahkan maka akan terjadi penurunan pertumbuhan. Pada praktikum dinuktikan bahwa auksin efektif  pada konsentrasi 0,001, pada konsentrasi yang lebih besar pertumbuhan tanaman terhambat.
  2. pH berpengaruh dalam aktivitas pertumbuhan tanaman. pH yang netral agak masam hingga  netral agak basa (5,6 – 7) dapat membantu pertumbuhan tanaman karena pada kondisi ini anion sukar larut dalam tanah (oksianion) menjadi mudah larut dan dapat dengan mudah diambil oleh tanaman.
  3. Panjang rata-rata akar pada perlakuan 2,4-D yang paling rendah tidak berbeda jauh dengan panjang akar rata-rata pada perlakuan larutan penyangga saja. Panjang akar rata-rata pada larutan penyangga adalah 6,36 dan panjang akar rata-rata pada konsentrasi 0,001 adalah 11,09. Perbedaan yang tidak jauh ini juga dibuktikan dengan nilai simpangan baku dan galat baku yang tidak berbeda jauh yaitu 2,3 dan 3,18 pada simpangan baku serta 1,52 dan 1,78 pada galat baku.



AKUMULASI UNSUR KLORIDA DALAM SEL TUMBUHAN

Nama               : Adelia Satwoko                    Tanggal                       : Selasa, 27 April 2010

Nrp                  : A14080009                           Bahan Tanaman          : Nitella sp.

Mayor              : ITSL                                     Nama Asisten              : 1. Meri Lestari

Kelompok       : 1                                                                                  2. Diana Agustin C

AKUMULASI UNSUR KLORIDA DALAM SEL TUMBUHAN

Tujuan Praktikum :

Menyelidiki akumulasi unsur klorida (Cl) di dalam sel tumbuhan.

PENDAHULUAN

Klor adalah unsur esensial mikro yang mempunyai fungsi cukup penting bagi pertumbuhan dan perkembangan suatu tanaman. Namun kegunaan fisiologis dari unsur Cl bagi tanaman belum banyak diketahui orang. Hal ini disebabkan karena kurangnya penelitian – penelitian tentang unsur ini, disamping kurangnya literatur yang menulis tentang Cl ini secara mendetail dan jelas. Perlu diingat bahwa Cl adalah salah satu unsur esensial mikro, sehingga walaupun diperlukan hanya dalam jumlah sedikit oleh tanaman ( Mg – g/ tanaman ) tetapi unsur ini mutlak diperlukan oleh tanaman karena memiliki fungsi dan peranan unsur ini tidak dapat digantikan dengan unsur lain. Selain itu memiliki fungsi dan peranan biokemisnya secara spesifik. Serta memiliki funfsi dan peran secara langsung dalam proses fisiologis tanaman (www.tanindo.com).

Ion klorida merupakan sebagian dari garam biasa. Cl banyak dan sangat diperlukan dalam banyak  kehidupan, termasuk manusia. Gas klorin  berwarna kuning kehijauan, yang  beratnya dua setengah kali lipat jika baunya sangat menyesakkan dan sangat beracun. Dalam bentuk cair dan pepejal ia merupakan agen pengoksidaan dan pelunturan yang sangat efektif (www.wikipedia.com).

Klor diserap oleh tanaman dalam bentuk ion Cl- , ion ini mempunyai fungsi fisiologis yang sangat penting dalam proses fotosintesis tanaman terutama pada fase terang.  Apabila ion Cl-  tidak tersedia, maka proses fotosintesis akan terhambat.  Bila proses fotosintesis tanaman ini terhambat, otomatis pertumbuhan dan perkembangan tanaman pun akan terhambat.    Dari hasil analisa pada tanaman ternyata bahwa Cl banyak terdapat dalam abu tanaman (relatif besar) dan dari hasil penyelidikan ternyata Cl banyak terdapat pada tanaman yang mengandung serat, seperti kapas (tanindo.com).

HASIL PENGAMATAN

No. Larutan Banyaknya ml AgNO3
Ulangan 1 Ulangan 2 Rata-rata
1 Nitella sp 1,6 1,4 1,5
2 NaCl 4,0 3,5 3,75
3 Tidak diketahui 2,9 1,9 2,4
4 Air kolam 0,7 0,7 0,7

Persamaan reaksi yang terjadi :

2 NaCl + K2CrO4 → Na2CrO4 + 2 KCl

Na2CrO4 + 2 AgNO3 → NaNO3 + Ag2CrO4 (merah bata)

Pengolahan data

Mol AgNO3 = Vol AgNO3  x Konsentrasi AgNO3

Mol AgNO3  ~ Mol NaCl

Mol Cl = Ar Cl x mol AgNO3

Mr NaCl

Nisbah Ratio =  Mol Cl Nitella sp x fp

Mol Cl air kolam

Nitella sp

Mol AgNO3 =  1,5 x 0,002 = 0,003 mol

Mol Cl = 35,45 x 0,003 = 0,0018 mol

58,45

Tidak Diketahui

Mol AgNO3 =  2,4 x 0,002 = 0,0048 mol

Mol Cl = 35,45 x 0,0048 = 0,0029 mol

58,45

NaCl

Mol AgNO3 =  3,75 x 0,002 = 0,0075 mol

Mol Cl = 35,45 x 0,0075 = 0,0045 mol

58,45

Air kolam

Mol AgNO3 =  0,7 x 0,002 = 0,0014 mol

Mol Cl = 35,45 x 0,0014 = 0,00084 mol

58,45

Nisbah Ratio = 0,0018 x 50 = 107,14

0,00084

PEMBAHASAN

Unsur Cl dapat berubah menjadi beracun pada tanaman. Beracun atau tidaknya unsure Cl tergantung pada iklim, sifat tanah dll. Dari hasil penyelidikan bentuk Cl yang lebih dari 0,1 % bagi tanaman pada umumnya akan menimbulkan keracunan, sedangkan pada padi timbulnya keracunan apabila terbentuk Cl sekitar 0,3 %. Fungsi fisiologis lain dari unsur Cl adalah sebagai aktifitas enzim . Cl yang diserap dalam bentuk larut kebanyakan terdapat didalam cairan sel, dengan kandungan Cl yang bervariasi, dari 1 – 5 %. Bila ion Cl ini bereaksi dengan ion H akan membentuk senyawa asam klorida (HCl) yang merupakan salah satu jenis asam pekat yang dapat mematikan penyakit yang masuk kedalam tubuh tanaman. Defisiensi unsur Cl atau klorida dapat menimbulkan gejala pertumbuhan daun yang kurang normal ( terutama pada tanaman sayur – sayuran ) daun tampak kurang sehat dan berwarna agak gelap (www.tanindo.com).

Adapun kemampuan tanaman untuk memperoleh hara dari tanah tergantung pada kompleks faktor-faktor, seperti laju tanah mensuplai ion ke permukaan akar, laju akar mengeksplorasi tanah yang belum tereksploitasi (“unexploited”) serta interaksi faktor lingkungan dan faktor mikrobiologis. Tempat tumbuh yang berbeda, jenis tanaman yang berbeda, kebutuhan Cl- pada masing-masing organ berbeda, tergantung pada ada atau tidaknya tanaman pesaing serta usia organ juga mempengaruhi penyerapan unsur hara mikro Cl- (nununghaerani.blogspot.com).

Pada percobaan kita mengamati kandungan Cl pada empat bahan yang berbeda, yaitu pada Nitella sp, NaCl, larutan tidak diketahui, dan air kolam. Dari keempat bahan tersebut dapat diketahui bahwa kandungan Cl paling besar terdapat pada larutan Nitella sp dalam bentuk mol yaitu sebesar 0,0018 mol. NaCl baku memiliki 0,0045 mol Cl, larutan tidak diketahui 0,0029 mol Cl. Air kolam memiliki paling sedikit kandungan Cl yaitu sebesar 0,00084 mol. Dapat diperkirakan bahwa larutan tidak diketahui adalah larutan NaCl dengan konsentrasi yang lebih rendah dari NaCl baku, karena hasil kandungan Cl dari larutan NaCl baku dengan larutan tidak diketahui tidak berbeda jauh.

Titrasi dengan AgNO3 berfungsi untuk menandakan banyaknya mol AgNO3. Mol AgNO3 ini setara dengan mol NaCl, sehingga dapat memudahkan kita dalam menghitung kandungan Cl pada larutan. Titrasi ini menyebabkan perubahan warna semua larutan menjadi merah bata. Hal ini disebabkan karena adanya kandungan Ag2CrO4 yang menimbulkan warna merah bata setelah dititrasi. Kita juga dapat menghitung nisbah ratio dari setiap larutan. Unttuk praktiukum ini kita menghitung nisbah ratio antara mol Cl Nitella sp dengan mol Cl air kolam dikalikan dengan faktor pengenceran larutan. Nisbah ratio larutan Nitella sp terhadap air kolam adalah sebesar 107, 14. Larutan Nitella sp memiliki kandungan Cl 107,14 kali lebih besar dibandingkan dengan larutan air kolam.

KESIMPULAN

Akumulasi unsur Cl pada tanaman akan terjadi jika kandungan Cl dalam tanah berlebih dan dapat menyebabkan kematian. Dari keempat larutan dapat diurutkan larutan yang memiliki kandungan Cl terbanyak sampai larutan yang memiliki kandungan Cl paling sedikit. Urutannya adalah sebagai berikut Nitella sp > NaCl baku > Tidak diketahui > air kolam. Dapat disimpulkan bahwa larutan tidak diketahui adalah larutan NaCl dengan konsentrasi yang lebih rendah dari pada larutan NaCl baku.

DAFTAR PUSTAKA

[Anonim].2009.Akumulasi Hara Mineral Dalam Sel Tumbuhan.[terhubung berkala].

http://nununghaerani.blogspot.com (27 April 2010)

[Anonim].Klor (Cl) Bagi Pertumbuhan dan Produksi Tanaman. [terhubung berkala]. http://www.tanindo.com. (27 April 2010)

[Anonim].Klorin.[terhubung berkala]. http://ms.wikipedia.org. (27 April 2010)

JAWABAN PERTANYAAN

  1. Perhitungan mol Cl
Nitella sp

Mol AgNO3 =  1,5 x 0,002 = 0,003 mol

Mol Cl = 35,45 x 0,003 = 0,0018 mol

58,45

Tidak Diketahui

Mol AgNO3 =  2,4 x 0,002 = 0,0048 mol

Mol Cl = 35,45 x 0,0048 = 0,0029 mol

58,45

NaCl

Mol AgNO3 =  3,75 x 0,002 = 0,0075 mol

Mol Cl = 35,45 x 0,0075 = 0,0045 mol

58,45

Air kolam

Mol AgNO3 =  0,7 x 0,002 = 0,0014 mol

Mol Cl = 35,45 x 0,0014 = 0,00084 mol

58,45

  1. Ketersediaan unsur hara ke permukaan akar tanaman, dapat juga terjadi karena melalui mekanisme perbedaan konsentrasi. Konsentrasi unsur hara pada permukaan akar tanaman lebih rendah dibandingkan dengan konsentrasi hara dalam larutan tanah dan konsentrasi unsur hara pada permukaan koloid liat serta pada permukaan koloid organik. Kondisi ini terjadi karena sebagian besar unsur hara tersebut telah diserap oleh akar tanaman. Tingginya konsentrasi unsur hara pada ketiga posisi tersebut menyebabkan terjadinya peristiwa difusi dari unsur hara berkonsentrasi tinggi ke posisi permukaan akar tanaman. Peristiwa pergerakan unsur hara yang terjadi karena adanya perbedaan konsentrasi unsur hara tersebut dikenal dengan mekanisme penyediaan hara secara difusi.Oleh karena itu kita tidak dapat memperhitungkan hasil secara difusi karena yang kita gunakan adalah larutan bukan tanaman yang memiliki perbedaan konsentrasi dengan larutan Cl, selain itu ada beberapa larutan yang tidak diketahui konsentrasinya.
  2. Karena Oksigen merupakan bahan baku dalam pembentukan jaringan tubuh tanaman. Oksigen ( O ) terdapat dalam bahan organik sebagai atom dan termasuk pembangun bahan organik, diambil oleh tanaman dalam bentuk gas O2 esensi utama dari unsur. Oksigen ini adalah pada proses respirasi. Kita ingat bahwa proses respirasi tanaman adalah proses perombakan gula (karbohidrat) hasil fotosintesis dan hasil akhir dari dari proses respirasi yaitu terbentuknya ATP yang merupakan sumber energi utama bagi tanaman untuk melakukan semua kegiatan seperti absorbsi, transpirasi, transportasi, pembelahan sel, pembungaan maupun fotosintesis. Oleh karena itu tidak akan terjadi akumulasi ion pada tanaman jika tanpa adanya oksigen.
  3. Akumulasi ion terjadi jika terdapat oksigen yang cukup untuk menghasilkan energi dan terdapat ion Cl dalam tanah berlebih (> 5%). Akumulasi ion ini akan menyebabkan kerugian untuk jaringan, bahkan menyebabkan kematian pada tanaman.
  4. Proses akumulasi ion cukup penting dalam tanaman, akumulasi terjadi ketika konsentrasi tanaman lebih kecil dibandingkan konsentrrasi ion Cl sehingga ion Cl dapat berdifusi kedalam tubuh tumbuhan. Akumulasi ion Cl dapat menguntungkan jika ion Cl ini bereaksi dengan ion H akan membentuk senyawa asam klorida (HCl) yang merupakan salah satu jenis asam pekat yang dapat mematikan penyakit yang masuk kedalam tubuh tanaman.

UNSUR HARA ESENSIAL UNTUK PERKEMBANGAN TUMBUHAN

Nama               : Adelia Satwoko                                Tanggal                       :Selasa, 27 April 2010

Nrp                  : A14080009                                       Bahan Tanaman          : Biji Jagung

Mayor              : ITSL                                                                                        ( Zea mays )

Kelompok       : 1                                                        Nama Asisten              : 1. Meri Lestari

2. Diana Agustin C

UNSUR HARA ESENSIAL UNTUK PERKEMBANGAN TUMBUHAN

Tujuan Praktikum :

Meneliti unsur hara yang dibutuhkan oleh tumbuhan

PENDAHULUAN

Setiap organisme akan selalu mengalami pertumbuhan dan perkembangan , tidak terkecuali tumbuhan. Pada tumbuhan, agar dapat tumbuh dan berkembang, tumbuhan memerlukan beberapa faktor penunjang diantaranya yaitu media tumbuh, unsur hara, air, cahaya matahari, dan sebagainya. Namun ada beberapa faktor penunjang pertumbuhan dan perkembangan tersebut kurang mencukupi apa yang dibutuhkan oleh tumbuhan tersebut, sehingga proses pertumbuhan dan perkembangannya menjadi terganggu bahkan  terhenti sama sekali (nununghaerani.blogspot.com). Pada umumnya pertumbuhan tanaman tergantung pada nutrisi yang diberikan padanya. Nutrisi yang dapat diberikan biasanya dalam bentuk unsur hara esensial.

Untuk tanaman tingkat tinggi terdapat 13 jenis hara esensial yang terdiri atas kelompok hara makro (N, P, K, S, Mg dan Ca) den kelompok hara mikro (Fe, Mn, Zn, Cu, B, Mo dan Cl) (Baligar dan Duncan, 1990).  Meskipun di dalam tanah sudah terdapat unsur hara namun tidak sepenuhnya unsur hara tersebut dapat digunakan oleh tanaman. Unsur hara yang dapat digunakan oleh tanaman disebut unsur hara esensial.  Menurut ARNON dan STOUT ada tiga kriteria yang harus dipenuhi sehingga suatu unsur dapat disebut sebagai unsur esensial. Pertama  unsur tersebut diperlukan untuk menyelesaikan satu siklus hidup tanaman secara normal. Kedua unsur tersebut memegang peran yang penting dalam proses biokhemis tertentu dalam tubuh tanaman dan peranannya tidak dapat digantikan atau disubtitusi secara keseluruhan oleh unsur lain.Ketiga peranan dari unsur tersebut dalam proses biokimia tanaman adalah secara langsung dan bukan secara tidak langsung (tanindo.com).

Pada percobaan kali ini kita menggunakan tanaman jagung untuk mengamati unsur hara apa saja yang dibutuhkan tanaman dengan melihat pertumbuhan pada tanaman. Dalam hal ini kultur        Fe-EDTA dijadikan acuan karena pada kultur ini terdapat unsur hara lengkap (medium komplit).

HASIL PENGAMATAN

Tabel panjang akar dan batang jagung selama percobaan

Tabel panjang akar dan batang jagung pada minggu ke-2

No Kultur Panjang akar dan batang (cm) Keadaan Tanaman
Akar Kontrol % Batang Kontrol %
1 Ca 9 74,38 13,8 125 Agak layu
2 S 12,5 103,3 11,65 105,9 Daun kuning
3 Mg 11 90 15,1 137,27 Daun kuning
4 K 8,5 70,24 15 136 Agak layu
5 N 20 165 8,5 77,27 Segar tapi ada daun mati
6 P 12,5 103,3 13,25 120,45 Agak layu
7 Fe 11,5 95,04 13,25 120,45 Agak layu
8 Hara Mikro 10,35 85,53 18 163,63 Segar
9 Tidak diketahui 8,7 71,9 9,95 90,45 Layu dan kuning pucat
10 Fe-EDTA 12,1 100 11 100 Agak layu

Tabel panjang akar dan batang jagung pada minggu ke-4

No Kultur Panjang akar dan batang (cm) Keadaan Tanaman
Akar Kontrol % Batang Kontrol %
1 Ca 13,9 113,46 28,5 69,09 Agak layu, ada daun mati
2 S 14,1 115,1 32,5 78,78 Semua layu
3 Mg 15,1 123,26 32,75 79,39 Atas segar bawah layu
4 K - - - - Mati
5 N 31,5 257,14 27,25 66,06 Agak layu
6 P 13,75 112,24 40 96,96 Agak layu
7 Fe 15,5 126,53 35,5 86,06 Agak layu
8 Hara Mikro 16 130,6 41,85 101,45 Segar
9 Tidak diketahui 8,5 69,38 7,05 17,09 Layu dan kuning pucat
10 Fe-EDTA 12,25 100 41,25 100 Layu

Tabel pH air pada tanaman

No Kultur pH air pada tanaman
Minggu ke-0 Minggu ke-4
1 Ca 5 7
2 S 5 6,5
3 Mg 5 7
4 K 5 7
5 N 5 5
6 P 5 6,5
7 Fe 5 7
8 Hara Mikro 5 7
9 Tidak diketahui 5 5
10 Fe-EDTA 5 7

Contoh perhitungan % kontrol Kultur Ca minggu ke-2

Akar = Panjang akar Ca x 100% = 9 x 100% = 74,38 %

Panjang akar Fe-EDTA                12,1

Batang = Panjang batang Ca x 100% = 13,8 x 100% =  125 %

Panjang batang Fe-EDTA                    11

PEMBAHASAN

Unsur hara yang diperlukan tanaman adalah Karbon (C), Hidrogen (H), Oksigen (O), Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Sulfur (S), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Seng (Zn), Besi (Fe), Mangan (Mn), Tembaga (Cu), Molibden (Mo), Boron (B), Klor (Cl), Natrium (Na), Kobal (Co), dan Silikon (Si).  Unsur Na, Si, dan Co dianggap bukan unsur hara essensial, tetapi hampir selalu terdapat dalam tanaman(http://kapurpertanian.com). Perkembangan tumbuhan dipengaruhi beberapa faktor, yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi adalah pH tanah. Ketersediaan unsur-unsur esensial didalam tanaman sangat ditentukan oleh pH. N pada pH 5.5 – 8.5, P pada pH 5.5 – 7.5 sedangkan K pada pH 5.5 – 10 sebaliknya unsur mikro relatif tersedia pada pH rendah (www.tanindo.com).

Carbon , Oksigen dan Hidrogen merupakan bahan baku dalam pembentukan jaringan tubuh tanaman, berada dalam bentuk H2O (air), H2CO3 ( asam karbonat) dan CO2 (gas karbondioksida). Jika tanaman mengalami kekurangan ketiga unsur tersebut maka pertumbuhan tanaman akan terhambat karena proses fotosintesis tidak berjalan. Tanaman menyerap unsur N dalam bentuk ion NO3 dan (NH4 ). Ion mana yang akan lebih dahulu diserap tergantung pada keadaan pH. Pada pH di atas 7 ( keadaan basa) maka ion NH4 ( amonium) yang akan lebih cepat diserap sedangkan pada pH dibawah 7 ( keadaan asam ) maka ion NO3 ( nitrat) yang lebih besar peluang untuk diserap. Unsur N berperan penting untuk pertumbuhan vegetatif tanaman. Bila pemberian N melalui pemupukan terlalu sering, maka NH3 akan tertimbun dalam tubuh tanaman. Bila NH3 ini tertimbun dalam jumlah banyak justru akan berbalik meracuni tanaman. Gejala sehubungan dengan kekurangan unsur hara ini dapat terlihat dimulai dari daunnya, warnanya yang hijau agak kekuningan selanjutnya berubah menjadi kuning . Jaringan daun mati dan inilah yang menyebabkan daun selanjutnya menjadi kering dan berwarna merah kecoklat-an.

Unsur P diserap dalam bentuk ion H2PO4 , HPO4 dan PO4. Unsur P berguna untuk menyusun senyawa ATP yaitu senyawa berenergi tinggi yang dihasilkan dalam proses respirasi siklus kreb sehingga tanaman dapat melakukan semua aktifitas biokimianya seperti pembungaan, pembentukan sel, transpirasi, transportasi dan fotosintesus secara absorbs ; membentuk senyawa fitin ( Ca-Mg-inositol-6P) yang terdapat dalam biji tepatnya dalam endosperm untuk proses perkecambahan ; membentuk DNA dan RNA untuk pembentukan inti sel dan membentuk senyawa fosfolipid yang berfungsi dalam mengatur masuk keluarnya (permeabilitas) zat-zat makanan didalam sel dan merupakan bahan dasar dari bagian sel. kekurangan unsure P menyebabkan pertumbuhan terhambat. Defisiensi unsur hara ini akan menimbulkan hambatan pada pertumbuhan sistem perakaran, daun, batang seperti misalnya pada tanaman serealia (jagung) daunnya berwarna hijau tua/ keabu-abuan, mengkilap, sering pula terdapat pigmen merah pada daun bagian bawah, selanjutnya mati. Tangkai daun kelihatan lancip. Pertumbuhan buah jelek, merugikan hasil biji.

Kalium diserap hampir pada semua proses metabolisme tanaman, mulai dari proses penyerapan air, transpirasi, fotosintesis, respirasi, sintesa enzim dan aktifitas enzim. K merupakan elemen yang higrokopis ( mudah menyerap air) ini menyebabkan air banyak diserap didalam stomata, tekanan osmotik naik, stomata membuka sehingga gas CO2 dapat masuk untuk proses fotosintesis. K berperan sebagai aktifitas untuk semua kerja enzim terutama pada sintesa protein. Gejala kekurangan kalium pada daun terjadi secara setempat-setempat. Pada permulaannya tampak agak mengkerut dan kadang-kadang mengkilap dan selanjutnya sejak ujung dan tepi daun tampak menguning, warna seperti ini tampak pula di antara tulang – tulang daun, pada akhirnya daun tampak bercak-bercak kotor, berwarna coklat, sering pula bagian yang bercak ini jatuh sehingga daun tampak bergerigi dan kemudian mati.

Sulfur atau belerang diserap oleh tanaman dalam bentuk ion HSO4 dan SO4 . Ion SO4 dalam jumlah banyak akan berbalik meracuni tanaman. Unsur S mempunyai dua esensialotas utama pada tanaman yaitu, unsur S berperan sebagai senyawa penyusun dan pembentukan asam amino. Bila pembentukan asam amino terhambat otomatis pembentukan protein terhambat menyebabkan tanaman tidak dapat tumbuh dan berkembang karena pembelahan sel terhambat sebagai akibat dari tidak adanya protein asam nukleat untuk pengisian inti sel. Unsur S juga berperan sebagai penyusun Asetil CoA ( koenzin A), bila Asetil CoA tidak terbentuk, akan menghambat proses respirasi siklus kreb akibatnya ATP tidak ada yang terbentuk menyebabkan proses fotosintesis, pembelahan sel, pembungaan, absorbsi, trans-parasi, translokasi menjadi terhambat akibatnya pertumbuhan terhambat. Defisiensi unsur S gejalanya klorosis terutama pada daun-daun muda, perubahan warna tidak berlangsung setempat-tempat, melainkan pada bagian daun selengkapnya.

Kalsium diserap dalam bentuk Ca. Fungsi fisiologis kalsium sangat penting dalam tubuh tanaman untuk  sintesa protein yang dibutuhkan agar tanaman dapat melakukan pembelahan dan pembesaran sel-sel tanaman, dapat menetralkan asam – asam organik  yang dihasilkan pada proses metabolisme tanaman sehingga tanaman terhindar dari keracunan, dan dapat menaikkan pH tanah. Gejala-gejala kekurangan Ca tampak pada daun, dimana daun-daun muda selain berkeriput mengalami perubahan warna, pada ujung dan tepi-tepinya klorosis ( berubah menjadi kuning) dan warna ini menjalar diantara ujung tulang – tulang daun, jaringan-jaringan daun pada beberapa tempat mati. Magnesium diserap dalam bentuk Mg. Mg merupakan bagian dari klorofil sehingga berhubungan langsung dengan proses penting fotosintesis.Mg menjadi pengikat antara insin dan substrat sehingga kerja enzim bisa berjalan normal. Mg juga menjadi bagian dari fitin yang terdapat dalam benih sehingga mempercepat proses perkecambahan benih. Kekurangan Mg menyebabkan klorosis antara tulang-tulang daun, sedangkan tulang-tulang daun itu sendiri tetap berwarna hijau. Bagian diantara tulang-tulang daun itu secara teratur berubah menjadi kuning dengan bercak kecoklatan. Daun-daun ini mudah terbakar oleh terik matahari karena tidak mempunyai lapisan lilin, karena itu banyak yang berubah warna menjadi coklat tua/kehitaman dan mengkerut

Besi diserap oleh tanaman dalam bentuk kation Fe. Fe berkaitan erat dengan klorofil yang berhubungan erat dengan proses fotosintesis. Jadi kalau Fe defisiensi maka proses fotosintesis juga terhambat maka produksi pun terhambat. Gejala-gejala kekurangan besi tampak pada daun muda, mula-mula secara setempat-tempat berwarna hijau pucat atau hijau kekuningan-kuningan, sedang tulang-tulang daun tetap berwarna hijau serta jaringan-jaringannya tidak mati. Selanjutnya pada tulang-tulang daun terjadi klorosis yang tadinya berwarna hijau berubah menjadi warna kuning dan ada pula yang menjadi putih. Gejala selanjutnya yang paling hebat terjadi pada musim kemarau, daun-daun muda yang banyak yang menjadi kering dan berjatuhan (yudiwijaya.wordpress.com).

Pada percobaan yang telah kita lakukan banyak tanaman jagung yang mengalami kekurangan unsur hara. Gejala kekurangan unsur hara tersebut terlihat dengan terjadinya klorosis, daun mengkilap, daun menguning, layu bahkan mati. Hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa kekurangan unsur hara baik makro ataupun mikro akan menimbulkan kelainan pada pertumbuhan tanaman. Namun untuk membedakan tanaman kekurangan unsur hara apa sangatlah sulit karena semua tanaman mengalami gejala yang hampir sama. Semua tanaman dengan kultur K, Fe, Mg, Ca, S, N, Fe-EDTA, dan P mengalami gejala yang sama yaitu daun menguning. Tanaman jagung pada kultur hara mikro terlihat berbeda dengan tanaman lain, tanaman ini terlihat segar dan tumbuh dengan semestinya, berarti dapat disimpulkan bahwa tanaman-tanaman lain mengalami kekurangan unsur hara mikro.

KESIMPULAN

Dari percobaan yang telah kita lakukan dapat disimpulkan bahwa unsur hara sangat diperlukan untuk pertumbuhan. Unsur hara mikro adalah unsur hara yang sangat diperlukan oleh tanaman walaupun  dalam jumlah sedikit, karena tanpa unsur hara mikro tanaman akan mengalami kelainan. Kelainan tersebut dapat berupa daun menguning, klorosis, daun mengkilap, layu bahkan terjadi kematian.

DAFTAR PUSTAKA

Baligar, V. C. and R. R. Duncan. 1990. Crops as Enhancers of Nutrient Use. Academic Press, Inc. Toronto

[Anonim].Pengaruh Unsur Esensial Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman.[terhubung berkala].http://www.tanindo.com(27 April 2010)

[Anonim].Unsur Hara Esensial Yang Dibutuhkan Tanaman.[terhubung berkala].

http://yudhiwijaya.wordpress.com. (27 April 2010)

[Anonim].Unsur Hara Tanaman.[terhubung berkala].http://kapurpertanian.com. (27 April 2010)

[Anonim].http://nununghaerani.blogspot.com (27 April 2010)
JAWABAN PERTANYAAN

  1. Hara mikro, karena gejala yang timbul adalah gejala kekurangan hara mikro seperti daun menjadi kuning, layu, dll. Kekurangan salah satu atau beberapa unsur hara akan mengakibatkan pertumbuhan tanaman tidak sebagaimana mestinya yaitu ada kelainan atau penyimpangan-penyimpangan dan banyak pula tanaman yang mati muda yang sebelumnya tampak layu dan mengering.
  2. Hara mikro >  Mg > N > P > Fe > Ca > S >  Fe-EDTA > K

Kultur pada hara mikro tumbuh paling baik diantara kultur-kultur tanaman lain. Kultur Mg masih terlihat segar namun hanya pada bagian atasnya saja, kemungkinan besar hal ini terjadi karena terhambatnya proses fotosintesis pada tanaman. Pada kultur N, P, dan Fe mengalami gejala yang sama yaitu tanaman mengalami kelayuan. Pada kultur Ca tanaman layu dan sebagian daun mati. Pada kultur S dan Fe-EDTA seluruh bagian tumbuhan layu. Pada kultur K tanaman mengalami kematian jaringan.

  1. Gejala defisiensi yang sering terjadxi pada tanaman mirip dengan gejala defisiensi N. Karena N memiliki sifat mobil dalam tanah sehingga tanaman mengalami gejala defisiensi unsur N. Gejala sehubungan dengan kekurangan unsur hara ini dapat terlihat dimulai dari daunnya, warnanya yang hijau agak kekuningan selanjutnya berubah menjadi kuning . Jaringan daun mati dan inilah yang menyebabkan daun selanjutnya menjadi kering dan berwarna merah kecoklatan.

PENETAPAN KUOSIEN RESPIRASI JARINGAN TUMBUHAN

Nama               : Adelia Satwoko                    Tanggal                       : Selasa, 20April 2010

Nrp                  : A14080009                           Bahan Tanaman          : Kecambah kacang hijau

Mayor              : ITSL                                                                           (Phaseolus radiatus)

Kelompok       : 1                                             Nama Asisten             : 1. Meri Lestari

2. Diana Agustin C

PENETAPAN KUOSIEN RESPIRASI JARINGAN TUMBUHAN

Tujuan Praktikum :

Menetapkan laju respirasi dan kuosien respirasi kecambah kacang hijau

PENDAHULUAN

Respirasi merupakan proses reaksi oksidasi-reduksi, yaitu senyawa yang dioksidasi menjadi CO2, sedangkan O2 yang diserap direduksi membentuk H2O. Respirasi merupakan oksidasi (dengan produk yang sama seperti pembakaran) yang berlangsung di medium air, dengan pH mendekati netral, pada suhu sedang, dan tanpa asap. Pati, fruktan, sukrosa atau gula lainnya, lemak, asam organik, dan pada keadaan tertentu bahkan protein dapat bertindak sebagai substrat respirasi. Sejalan dengan berlangsungnya pemecahan, kerangka karbon-antara disediakan untuk menghasilkan berbagai produk esensial (http://cheabio.blogspot.com).

Kuosien respirasi merupakan nisbah CO2 terhadap O2, jika karbohidrat (sukrosa, fruktan, pati) mengalami oksidasi, dan nilainya hampir mendekati satu. Dengan mengukur RQ berbagai bagian tumbuhan, dapat diperoleh informasi tentang jenis senyawa yang sedang dioksidasi. Terdapat 3 jenis hidrolisis substrat yang dapat terjadi, yaitu hidrolisis pati, fruktan dan sukrosa.

Sebagian besar langkah dalam proses perombakan pati menjadi glukosa dikatalis oleh tiga macam enzim: α-amilase, β-amilase, dan pati fosforilase. dari ketiganya, hanya α-amilase yang dapat menyerang butir patih utuh, yaitu dengan memutuskan ikatan 1-4 pada rantai amilosa atau amilopektin. Fruktan merupakan bahan makanan cadangan pada beberapa spesies tumbuhan subtropik, sebagian anggota Asteraceae, dan suku lainnya yang digunakan sebagai substrat respirasi selain pati. Reaksi hidrolisisnya dikatalis oleh enzim β-fruktofuranosidase dengan kekhususan terhadap ikatan β-2,1 dan β-2,6 yang terlibat. Reaksi pemecahan sukrosa dikatalis oleh enzim invertase yang bersifat ireversibel dan enzim sukrosa sintase yang bersifat reversible (http://cheabio.blogspot.com).

HASIL PENGAMATAN

  • Tinggi metil biru sebelum NaOH ditumpahkan (Da) = 0,6 cm = 6 mm
  • Tinggi metil biru setelah NaOH ditumpahkan (Db) = 0,9 cm = 9 mm
  • r = 0,5 mm
  • Vt = 250.000 mm3
  • Pa = Da / 13 = 6 /13 = 0,46 mmHg
  • Pb = Db / 13 = 9 / 13 = 0,69 mmHg
  • Va == 3,14 x 0,52x6 = 4,71 mm3
  • Vb == 3,14 x 0,52x9 = 7,065 mm3

  • V1 = (Vt-Va)(760-Pa) = (250.000-4,71)(760-0,46)  = 249843,97 mm3

760                                 760

  • V2 = (Vt-Vb)(760-Pb) = (250.000-7,065)(760-0,69)  = 249765,97 mm3

760                                 760

  • Va’ =  Vt-V1 = 250000 – 249843,97 =  156,03 mm3
  • Vb’ = Vt-V2 = 250000 – 249765,97 =  234,03  mm3
  • Volume O2 = Vb’ = 234,03 mm3
  • Volume CO2 = Vb’ – Va’ = 234,03 – 156,03 = 78 mm3
  • KR = Volume CO2 = 78 = 0,33

Volume O2      234,03

Laju respirasi = KR / 15 g = 0,33 /15 =0,022 mm/g

PEMBAHASAN

Kuosien respirasi kecambah kaacang hijau dapat diketahui dengan menghitung ketinggian metil biru yang digunakan dalam praktikum sebagai jumlah pengabsorbsian O2 oleh tanaman. Dalam praktikum digunakan NaOH sebagai indikator respirasi dimana respirasi pada kecambah kacang tanah dapat berjalan lebih cepat dari semestinya. Pada KR terdapat titik kompensasi yaitu  keadaan dimana titik yang menunjukkan kecepatan Fotosintesis yang dilakukan tumbuhan sama dengan kecepatan respirasinya . Dapat diketahui pula KR Glukosa = 1, KR Lemak = 0,7, KR Protein = 0,7 < KR < 1 ( fistum07.wordpress.com). KR memberi petunjuk tentang jenis substrat yang dioksidasikan & jenis metabolisme yang sedang berlangsung. Jika KR > 1 maka sel kekurangan O2, repirasi aerob dibantu respirasi anaerob agar menambah energi. Jika KR < 1 maka sebagian / semua CO2 yang dihasilkan dalam respirasi digunakan langsung oleh organisme yang bersangkutan, misal untuk fotosintesis.

Kuosien respirasi kacang hijau  didapatkan dari rasio volume CO2 dengan O2 yaitu sebesar 0,33. Kuosien respirasi jaringan bergantung pada substrat yang terlibat. Pada kacang hijau substrat yang yang mempengaruhi adalah karbohidrat (glukosa), karena kacang hijau mengandung cukup karbohidrat. Namun karena pada praktikum yang kita gunakan adalah kecambah kacang hijau maka substrat yang bekerja adalah asam palmitat (suatu jenis asam lemak yang dapat diubah menjadi sukrosa pada endosperm selama stadium awal perkembangan biji kaya akan lemak (KR asam palmitat sebesar 0,36 pada). Selain itu dapat disimpulkan bahwa sebagian / semua CO2 yang dihasilkan dalam respirasi digunakan langsung oleh organisme yang bersangkutan untuk fotosintesis.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kuosien respirasi diantaranya ketersediaan substrat. Tersedianya substrat pada tanaman merupakan hal yang penting dalam melakukan respirasi. Tumbuhan dengan kandungan substrat yang rendah akan melakukan respirasi dengan laju yang rendah pula. Demikian sebliknya bila substrat yang tersedia cukup banyak maka laju respirasi akan meningkat. Ketersediaan oksigen juga akan mempengaruhi laju respirasi, namun besarnya pengaruh tersebut berbeda bagi masing-masing spesies dan bahkan berbeda antara organ pada tumbuhan yang sama. Fluktuasi normal kandungan oksigen di udara tidak banyak mempengaruhi laju respirasi, karena jumlah oksigen yang dibutuhkan tumbuhan untuk berrespirasi jauh lebih rendah dari oksigen yang tersedia di udara. Pengaruh faktor suhu bagi laju respirasi tumbuhan sangat terkait dengan faktor Q10, dimana umumnya laju reaksi respirasi akan meningkat untuk setiap kenaikan suhu sebesar 10°C, namun hal ini tergantung pada masing-masing spesies. Tipe dan umur tumbuhan memiliki pengaruh terhadap metaboliseme masing-masing spesies, dengan demikian kebutuhan tumbuhan untuk berespirasi akan berbeda pada masing-masing spesies. Tumbuhan muda menunjukkan laju respirasi yang lebih tinggi dibanding tumbuhan yang tua. Demikian pula pada organ tumbuhan yang sedang dalam masa pertumbuhan (fistum07.wordpress.com).

KESIMPULAN

Kuosien respirasi tumbuhan diperoleh untuk mengetahui informasi tentang jenis senyawa yang sedang dioksidasi. Terdapat 3 jenis hidrolisis substrat yang dapat terjadi, yaitu hidrolisis pati, fruktan dan sukrosa. Selain itu dari kuosien respirasi kita dapat menentukan laju respirasi tumbuhan berdasarkan berat tumbuhan.

DAFTAR PUSTAKA

[Anonim].2009.Metabolisme Respirasi Pada Tumbuhan.[terhubung berkala]. http://cheabio.blogspot.com. (20 April 2010)

[Anonim].Respirasi Tumbuhan.[terhubung berkala].http:// fistum07.wordpress.com.(20 April 2010)

JAWABAN PERTANYAAN

  1. Substrat yang digunakan dalam respirasi kecambah kacang hijau adalah asam palmitat. Asam palmitat adalah suatu jenis asam lemak yang dapat diubah menjadi sukrosa pada endosperm selama stadium awal perkembangan biji kaya akan lemak. KR asam palmitat sebesar 0,36 pada literatur dan pada percobaan ini didapatkan KR kecambah kacang hijau sebesar 0,33.
  2. Penetapan KR respirasi dapat mempelajari aktivitas respirasi jaringan dimana suatu jaringan berespirasi dengan baik atau tidak dengan dipengaruhi beberapa faktor. Respirasi suatu jaringan juga bergantung pada substrat yang digunakan untuk respirasi (KR Glukosa = 1, KR Lemak = 0,7, KR Protein = 0,7 < KR < 1). Jika KR > 1 maka sel kekurangan O2, repirasi aerob dibantu respirasi anaerob agar menambah energi. Jika KR < 1 maka sebagian / semua CO2 yang dihasilkan dalam respirasi digunakan langsung oleh organisme yang bersangkutan, misal untuk fotosintesis.

  1. C4H6O2  + 4 ½ O2  → 4CO2 + 3H2O

KR = 4 Molekul CO2 = 0,88 ( Substrat protein)

4,5 Molekul O2

  1. C18H34O2  +  25 ½ O2  →  18 CO2  +  17 H2O

KR = 18 Molekul CO2 = 0,7 ( Substrat lemak)

25,5 Molekul O2

PENETAPAN POTENSIAL AIR JARINGAN TUMBUHAN

Nama               : Adelia Satwoko                                Tanggal                       :Selasa, 23 Maret 2010

Nrp                  : A14080009                                       Bahan Tanaman          : Umbi Kentang

Mayor              : ITSL                                                                                        ( Solanum tuberosum )

Kelompok       : 1                                                        Nama Asisten              : 1. Meri Lestari

2. Diana Agustin C

PENETAPAN POTENSIAL AIR JARINGAN TUMBUHAN

Tujuan Praktikum :

Mengukur nilai potensial air jaringan umbi kentang.

PENDAHULUAN

Potensial air merupakan alat diagnostik yang memungkinkan ahli tumbuhan dapat menentukan keadaan secara tepat status air dalam sel atau jaringan tumbuhan. Semakin rendah atau sedikit potensial air yang terdapat di dalam suatu sel atau jaringan tumbuhan akan semakin besar kemampuannya untuk mengabsorbsi air, dan sebaliknya. Dengan demikian potensial air digunakan untuk mengukur devisit air dan tegangan air yang terdapat dalam sel dan jaringan. Potensial air daun mempengaruhi transpirasi terutama melalui pengaruhnya terhadap membukanya stomata, tetapi juga mempengaruhi kadar uap air dalam ruang udara daun. Pengurangan potensial air sedikit tidak akan mempengaruhi transpirasi secara nyata, terutama apabila kadar uap air udara tinggi (http://nopiblogspot.blogspot.com)

Hubungan antar potensial air adalah dengan melibatkan peristiwa osmose karena osmose merupakan peristiwa difusi dimana antara 2 tempat tersedianya difusi dipisahkan oleh membrane atau selaput. Maka dapat diartikan bahwa dinding sel atau membrane protoplasma adalah merupakan membrane pembatas antara zat yang berdifusi karena pada umumnya sel tumbuh-tumbuhan tinggi mempunyai dinding sel maka sebagian besar proses fitokimia dalam tumbuh-tumbuhan adalah merupakan proses osmose (Heddy, 1987). Pada fisiologi tanaman adalah hal biasa untuk menunjukkan energi bebas yang di kandung di dalam air dalam bentuk potensial air (ψ). Definisi dari potensial air adalah energi per unit volume air, potensial air berbanding lurus dengan suhunya (Fitter, A.h dan Hay, R.K.M, 1981)

Potensial osmotic merupakan potensial kimia yang disebabkan adanya materi yang terlrut. Potensial osmotic selalu memiliki nilai negative, hal ini disebabkan karena cenderung bergerak menyebrangi membrane semi permeable dari air murni menuju air yang mengandung zat terlarut (Lambers,dkk,1998). Besar jumlah potensial air pada tumbuhan dipengaruhi oelah 4 macam komponen potensial, yaitu gravitasi, matriks, osmotic dan tekanan. Potensial gravitasi bergantung pada air didalam daerah gravitasi . potensial matriks bergantung pada kekuatan mengikat air saat penyerapan. Potensial osmotic bergantung pada hidrostatik atau tekanan angina dalam air (Deragon, 2005).

HASIL PENGAMATAN

Tabel berat kentang selama percobaan

No Larutan Sukrosa Berat sebelum

Di rendam (g)

Berat setelah

Di rendam (g)

Penambahan berat

(g)

Perubahan berat

(%)

1 Air destilata 2,1 2,5 0,4 19,04 %
2 0,05 1,7 2 0,3 17,64 %
3 0,10 1,9 2 0,1 5,26 %
4 0,15 1,5 1,5 0 0 %
5 0,20 2 1,9 0,1 5 %
6 0,25 2 1,9 0,1 5 %
7 0,30 1,9 1,7 0,2 10,53 %
8 0,35 1,9 1,5 0,4 21,05 %
9 0,40 1,5 1,2 - 0,3 - 20 %
10 0,45 1,7 1,4 - 0,3 - 17,65 %
11 0,50 1,8 1,3 - 0,5 - 27, 78 %
12 0,60 2 1,3 - 0,7 - 35 %

Pengolahan data

% perubahan berat = Berat Akhir – Berat mula-mula x 100 %

Berat mula-mula

Contoh perhitungan

air destilata = 2,5 – 2,1 x 100 % = 19,04 %

2,1

Potensial air (-Ψs) = M i R T

(-Ψs 0,15 ) =  0,15 x 1 x 0,0831 x 300 = – 3,74 bar

M1 = M2 →  Ψs2 = M2 x Ψs1

Ψs1   Ψs2                      M1

Keterangan :

M= Molaritas larutan sukrosa

i = konstantaa ionisasi (sukrosa=1)

R= konstanta gas (0,0831 bar/°mol)

T= suhu absolute (=27°C + 273=300 )

  1. Ψs Air destilata = 0 x -3,74 = 0 bar

0,15

  1. Ψs 0,05 = 0,05 x -3,74 = -1,25 bar

0,15

  1. Ψs 0,10 = 0,10 x -3,74 =- 2,49 bar

0,15

  1. Ψs 0,20 = 0,20 x -3,74 = -4,99 bar

0,15

  1. Ψs 0,25 = 0,25 x -3,74 = -6,23 bar

0,15

  1. Ψs 0,30 = 0,30 x -3,74 = -7,48 bar

0,15

  1. Ψs 0,35 = 0,35 x -3,74 = -8,73 bar

0,15

  1. Ψs 0,40 = 0,40 x -3,74 = -9,97 bar

0,15

  1. Ψs 0,45 = 0,45 x -3,74 = -11,22 bar

0,15

10.  Ψs 0,50 = 0,50 x -3,74 = -12,47 bar

0,15

11.  Ψs 0,60 = 0,60 x -3,74 = -14,96 bar

0,15

Grafik

PEMBAHASAN

Penentuan potensial air sudah sejak lama dikenal oleh V.S Shardakov yang berasal dari Rusia. Prinsipnya terletak pada pertumbuhan densitas dari larutan yang diketahui tingkat kepekatannya. Larutan yang sering digunakan dalam mengestiminasi potensial air adalah larutan sukrosa (C12H22O¬11), sampel yang dimasukkan kedalam seri larutan akan kehilangan atau menyerap air secara osmosis. Jika densitas larutan tidak berubah, berarti potensial air sampel yang diuji sama dengan larutan tersebut (http://nopiblogspot.blogspot.com).Dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa sukrosa dengan konsentrasi 0,15 tidak mempengaruhi perubaahaan berat pada kentang hal ini berarti bahwa sukrosa pada konsentrasi 0,15 adalah larutan isotonic dimana konsentrasinya sama dengan kentang sehingga tidak terjadi perubahan berat.

Energi potensial sangat mempengaruhi pergerakanlarutan secara osmosis dalam sel. Jika potensial larutan lebih besar dari potensial sel maka larutan akan masuk kedalam sel. Jika potensial larutan lebih kecil daripada potensial sel maka sel akan mengalami lisis dimana cairan di dalam sel akan keluar dari sel.

Percobaan ini menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi larutan sukrosa maka semakin kecil nilai potensial yang didapatkan. Pada pengamatan terdapat beberapa perubahan berat yang bernilai negative. Hal tersebut disebabkan adanya cairan yang keluar sel karena perbedaan potensial kentang dan sukrosa. Selain itu terdapat Larutan sukrosa yang sama sekali tidak mempengaruhi berat kentang, yaitu pada konsentrasi 0,15 , larutan ini disebut larutan isotonis (tekanan potensial larutan dengan potensial sell sama).

KESIMPULAN

Larutan mengalir dari potensial tinggi ke potensial rendah. Jika potensial larutan lebih besar dari potensial sel maka larutan akan masuk kedalam sel. Jika potensial larutan lebih kecil daripada potensial sel maka sel akan mengalami lisis dimana cairan di dalam sel akan keluar dari sel. Dari percobaan ini dapat diketahui bahwa larutan sukrosa pada konsentrasi 0,15 disebut larutan isotonis karena pada konsentrasi tersebut kentang tidak mengalami perubahan berat.

DAFTAR PUSTAKA

Filter, W.G. 1989. FISIOLOGI LINGKUNGAN TUMBUHAN. Gadjah mada University press. Yogykarta

Heddy,S.1982. BIOLOGI PERTANIAN. Fakultas pertanian Universitas Brawijaya. Malang
Lambers,H.F,S. Chapia dan T.L pons. 1998. PHYSIOLOGY. Ecology spinger. New york hal 150

[Anonim].2005. WATER POTENTIAL. http://www.deragon.com. (25 Maret 2010)

[Anonim].2009. PENETAPAN POTENSIAL AIR.http://nopiblogspot.blogspot.com. (25 Maret 2010)
JAWABAN PERTANYAAN

1.     Potensial air (-Ψs) = M i R T

(-Ψs 0,15 ) =  0,15 x 1 x 0,0831 x 300 = – 3,74 bar

2.  Larutan sukrosa digunakan karena memiliki sifat non-elektrolit. Sifat non-elektrolit (memiliki energy yang rendah)  tidak akan merusak membrane yang dilewati air walaupun  dalam konsentrasi yang tinggi sehingga potensial air dan umbi kentang dapat diukur. Sedangkan jika menggunakan larutan NaCl dan KCl potensial air dan kentang sulit diukur karena permeabilitas membrane telah rusak, sel tidak mampu lagi menampung zat-zat masuk sehingga sel pecah.

3.    Air destilata digunakan sebagai kontrol karena memiliki potensial mendekati atau sama dengan 0. Sifat air destilata yang bebas dan ion-ion mengakibatkan air dapat keluar masuk membrane tanpa hambatan, sehingga dapat merubah berat dan volume dari jaringan kentang.

4.   Pada biji yang kering udara atau tumbuhan xerofit, permukaannya bersifat hidrofilik dan nilai absorbanya tinggi. Bila  biji kering dimasukkan ke dalam air, biji akan menyerap banyak air dan mengembang. Dalam hal ini potensial matriks (ikatan molekul-molekul air terhadap senyawa pembentuk protoplasma dan dinding sel) tidak dapat diabaikan meskipun bernilai kecil.

5.     a. Pengairan pada tanaman

Pengairan yang tepat dengan memperhatikan potensial air optimal dan keutuhan sel tanaman.

b. Penentuan kadar pupuk

Kadar pupuk dalam tanah akan mempengaruhi potensial air tanaman oleh karena itu pupuk     yang diberikan harus sesuai.

6. 1. Metode ekuilibrasi uap : dengan prinsip evaporasi dan perbedaan suhu logam pada alat dan pengukuran arus listrik oleh psychrometer.

2. Metode Imersi uap : Dengan menggunakan larutan NaCl baku dan K

3. Metode ruang tekan : Tanaman dimasukkaan kedalam ruang tekan.

4. Metode Osmometer Cryoscopy (potensial osmotic) : berdasarkan pengukuran titik beku cairan yang diukur adalah cairan jaringan

PENGARUH OSMOTIK KONSENTRASI GARAM HARA TERHADAP ABSORBSI AIR DAN PERTUMBUHAN TANAMAN

Nama               : Adelia Satwoko                    Tanggal                       :Selasa, 23 Maret 2010

Nrp                  : A14080009                           Bahan Tanaman          : Kacang hijau

Mayor              : ITSL                                                                          ( Phaseolus radiatus )

Kelompok       : 1                                            Nama Asisten              : 1. Meri Lestari

2. Diana Agustin C

PENGARUH OSMOTIK KONSENTRASI GARAM HARA

TERHADAP ABSORBSI AIR DAN PERTUMBUHAN TANAMAN

Tujuan Praktikum :

Melihat pengaruh osmotik dari konsentrasi garam hara terhadap absorbsi air dan tumbuhan tanaman.

PENDAHULUAN

Air merupakan 85 – 95 % berat tumbuhan herba yang hidup di air. Dalam sel, air diperlukan sebagai pelarut unsur hara sehingga dapat digunakan untuk mengangkutnya; selain itu air diperlukan juga sebagai substrat atau reaktan untuk berbagai reaksi biokimia misalnya proses fotosintesis; dan air dapat menyebabkan terbentuknya enzim dalam tiga dimensi sehingga dapat digunakan untuk aktivitas katalisnya. Tanaman yang kekurangan air akan menjadi layu, dan apabila tidak diberikan air secepatnya akan terjadi layu permanen yang dapat menyebabkan kematian.

Terdapat lima mekanisme utama yang menggerakkan air dari suatu tempat ke tempat lain, yaitu melalui proses: difusi, osmosis, tekanan kapiler, tekanan hidrostatik, dan gravitasi. Difusi adalah pergerakan molekul atau ion dari dengan daerah konsentrasi tinggi ke daerah dengan konsentrasi rendah. Osmosis adalah difusi melalui membran semipermeabel. Masuknya larutan ke dalam sel-sel endodermis merupakan contoh proses osmosis..

Masuknya air ke dalam sel akan menyebabkan tekanan terhadap dinding sel sehingga dinding sel meregang. Hal ini akan menyebabkan timbulnya tekanan hidrostatik untuk melawan aliran air tersebut. Tekanan hidrostatik dalam sel disebut tekanan turgor. Tekanan turgor yang berkembang melawan dinding sebagai hasil masuknya air ke dalam vakuola sel disebut potensial tekanan. Tekanan turgor penting bagi sel karena dapat menyebabkan sel dan jaringan yang disusunnya menjadi kaku. Potensial air suatu sel tumbuhan secara esensial merupakan kombinasi potensial osmotik dengan potensial tekanannya. Jika dua sel yang bersebelahan mempunyai potensial air yang berbeda, maka air akan bergerak dari sel yang mempunyai potensial air tinggi menuju ke sel yang mempunyai potensial air rendah.(kreidwi.blog.friendster.com)

HASIL PENGAMATAAN

Tabel Pengamatan Kacang Hijau Selama 1 Minggu

Larutan CaCl2 Tanaman Panjang batang (cm) Keadaan pada hari ke- Penambahan air (ml)
Awal Akhir Pertambahan 2 4 7 2 4 7
aquades A 15 segar segar Mati 4 8 0
B 16 mati mati
0,01M A 13,2 13,7 0,5 segar segar segar 6,5 11 20
B 18,3 18,4 0,1
0,02 M A 18,5 18,6 0,1 segar segar segar 12 3 10
B 15,5 15,5 0
0,03 M A 19,8 19,8 0 segar segar segar 7 2 12
B 18,5 18,8 0,3
0,05 M A 14 14,2 0,2 segar segar segar 8,5 6 10
B 16,7 16,8 0,1
0,1 M A 17,2 17,2 0 segar segar segar 1 5 3
B 16,1 16,6 0,5
0,2 M A 17,3 segar Agak layu mati 8 1 0
B 17 segar

PEMBAHASAN

Unsur Hara makro maupun mikro walaupun berbeda dalam jumlah kebutuhanya,namun dalam fungsi pada tanaman,masing-masing unsur sama pentingnya dan tidak bisa digantikan satu sama lain. dalam hal ini unsur hara mempunyai fungsi dan peran khusus sendiri-sendiri terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman,sehingga ketika terjadi kekurangan salah satu dari unsur hara tersebut maka akan mengakibatkan tidak optimalnya pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Unsur Hara yang diberikan pada tanaman sebaiknya sudah dalam bentuk ion seperti: NH,HPO,K,Mg,SO, dan lain-lain agar langsung dapat diserap tanaman.

Unsur hara (garam-garaman) yang terkandung dalam air laut (diibaratkan dengan larutan CaCl2 pada praktikum ini) berpengaruh terhadap pertumbuhan, perkembangan dan produksi suatu tanaman, yang ditentukan oleh dua faktor utama yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Salah satu faktor lingkungan yang sangat menentukan lajunya pertumbuhan, perkembangan dan produksi suatu tanaman adalah tersedianya unsur-unsur hara yang cukup di dalam tanah. Namun Tidak semua garam-garam hara dapat diserap oleh tanaman, hanya garam-garam hara dengan konsentrasi  tertentu dan  potensial larutan tertentu yang dapat diserap.

Air dapat masuk kedalam sel-sel akar jika potensial osmotik larutan luar lebih rendah dibandingkan dengan potensial sel akar. Seiring dengan peningkatan konsentrasi larutan, maka pergerakan air masuk kedalam akar akan terhambat bahkan terbalik. Tanaman tidak mampu lagi untuk menyerap larutan karena konsentrasi larutan lebih tinggi, dalam kondisi ini tanaman mengalami kekeringan fisiologis karena perbedaan potensial konsentrasi. Keadaan seperti ini sering dijumpai pada tanah saalin dan tanah basa.

Pada percobaan  dapat diketahui bahwa semakin tinggi konsentrasi CaCl2, maka air yang berkurang (diserap tanaman) semakin berkurang, hal ini karena konsentrasi CaCl2 lebih tinggi. Pada konsentrasi CaCl2  0,02 M penambahan air sebesar 25 ml, sedangkan pada konsentrasi 0,2 M CaCl2 penambahan air berkurang menjadi 17 ml. Tanaman menjadi layu bahkan mati karena absobsi air terhambat meskipun ketersediaan air cukup.

KESIMPULAN

Pada tanah yang memiliki konsentrasi garam hara tinggi tanaman akan mengalami kekeringan fisiologis dimana tanaman tidak mampu lagi untuk menyerap air walaupun ketersediaan air mencukupi. Hal ini dikarenakan potensial larutan yang lebih besar. Oleh karena itu tanah salin atau tanah masam jarang digunakan tanpa pengolahan dalam pertanian, karena kedua tanah ini memiliki konsentrasi yang tinggi dan dapat menghambat serapan air yang menyebabkan tanaman layu bahkan mati.

DAFTAR PUSTAKA

[Anonim].2009.Hara Air Laut.[Terhubung berkala].http://darsono-sigit.um.ac.id.(2 April 2010)

[Anonim].2009.Transpirasi.[Terhubung berkala].http://kireidwi.blog.friendster.com.

(2 April 2010)

[Anonim].Unsur Hara Yang Diperlukan Tanaman.[Terhubung berkala].

http://www.kebonkembang.com.(2 April 2010)

JAWABAN PERTANYAAN

  1. Air dapat masuk dari larutan  kedaalam sistem akar bila potensial osmotik larutan lebih kecil daripada potensial akar. Ion Cl¯ menyebabkan naiknya potensial larutan sehingga absorbs air oleh akaar terganggu. Kurangnya absorbsi air menyebabkan kurangnya air yang masuk ke dalam tanaman, pada kondisi ini tanaman akan mengalami stress air sehingga tanaman akan layu meskipun akarnya terendam air (kekeringan fisiologis).
  2. Tanaman yang kekurangan air akan terhambat pertumbuhannya. Hal ini terkait dengan pentingnya peranan air bagi tumbuhan. Air berperan sebagai komponen utama protoplasma , pelarut hara mineral dan senyawa metabolic, medium reaksi metabolic, pereaksi dalam fotosintesis dan proses hidrolitik, penentu tugiditas sel, serta berperan dalam pertumbuhan dan ‘gerak’ tumbuhan. Jika kekurangan air secara terus menerus tanaman akan mengalami kematian selain itu kekurangan air dapat menyebabkan terhambatnya proses penyerapan hara karena proses difusi dan aliran massa tidak terjadi.
  3. Pada tanah dengan kondisi ekstreme yaitu dengn kadar garamtinggi dan bersifat basa. Pada tanah dengan kadar garam tinggi, konsentrasi linarut tinggi dan potensial airnya rendah, sementara pada tanah yang bersifat basa nilai pHnya tinggi. Kedua kondisi ini sangat berpengaruh pada penyerapan hara tanah oleh akar. Hal ini akan menurunkan kemampuan akar dalam menyerap air.

Tugas Penkom

Lebaran 2010

Lebaran tahun ini sama dengan tahun tahun sebelumnya “no mudik”. Kalo kata orang sih lebaran gak mudik gak dapet feel_nya,,, Emang sih terkadang suka pengen ikutan temen-temen lain mudik tapi gak punya kampung, sedihnya.

Tapi aku bersyukur meski gak punya kampung tapi tetep bisa kumpul sama keluarga di Jakarta. Sungkeman jadi tradisi dikeluargaku, terharu dan menangis terkadang menemani sungkeman itu.  Kami juga bercerita keadaan yang sudah dialami sebelumnya baik di kampus atau di rumah. Bahkan sesekali kakek, nenek, om dan tanteku ikut nimbrung membicarakan masalah berita yang sedang gempar belakangan ini. Bertambah deh pengetahuanku dari mereka. Bukan cuma itu saja lebaran tahun ini kami pergi nonton bareng keluarga besar, pulangnya makan bareng dan jalan2.

Sebenarnya tahun ini adalah tahun pertama aku gak kumpul lama sama semua keluarga besarku, karena kendala liburan kerja pendek alhasil semua keluarga jauh harus pulang H-3 lebaran.  Biasanya aku hampir seminggu penuh di rumah nenekku bersama dengan keluarga yang lain, tapi gak masalah yg penting bisa tatap muka.

H-3 lebaran tepat saat saudaraku kembali ke tempat tinggal masing-masing, aku pergi berlibur ke arena renang. ini liburan pertamaku dengan kk ipar baruku… n_n

Bukan hanya liburan pertama, tapi juga kami semua dapat masuk arena tanpa bayar tiket masuk alias “GRATIS”. hohoho ngirit uang deh. Selebihnya aku silaturahmi ke tempat2 temen2ku dan jalan bareng deh.

Meski gak punya kampung tapi tetep seneng kok, bersyukur atas apa yang telah diberikan….

PERHITUNGAN SEVERITAS PENYAKIT

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU HAMA TUMBUHAN DASAR

PERHITUNGAN SEVERITAS PENYAKIT

ADELIA SATWOKO

A14080009

Lab. Dik. 3

Dosen pembimbing : Dr. Ir Suryo Wiyono

Asisten praktikum : 1. Rr. Laras Anjarsari (A 34062876)

2. Aisah                     (A34060711)

Departemen Proteksi Tanaman

Fakultas Pertanian

Institut Pertanian Bogor

2010

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kacang tanah yang ada di Indonesia semula berasal dari benua Amerika. Pemasukan ke Indonesia pertama- tama diperkirakan dibawa oleh pedagang-pedagang Spanyol, sewaktu melakukan pelayarannya dari Mexico ke Maluku setelah tabun 1597. Pada tahun 1863 HOLLE memasukkan Kacang Tanah dari Inggris dan pada tahun 1864 SCHEFFER memasukkan pula Kacang Tanah dari Mesir.

Jenis tanaman di Indonesia ada dua tipe, yaitu : Tipe tegak adalah
jenis kacang yang tumbuh lurus atau sedikit miring keatas, buahnya terdapat pada ruas-ruas dekat rumpun, umumnya pendek ( genjah ) dan kemasakan buahnya serempak. Dan tipe menjalar adalah jenis tumbuh kearah samping, batang utama berukuran panjang, buah terdapat pada ruas-ruas yang berdekatan dengan tanah dan umumnya berumur panjang.

Di Indonesia, tanaman Kacang Tanah cocok ditanam didataran rendah yang berketinggian dibawah 500 m diatas permukaan laut. lklim yang dibutuhkan tanaman Kacang Tanah adalah bersuhu tinggi antara 25°C – 32°C, sedikit lembab ( rH 65 % – 75 % ), curah hujan 800 mm -1300 mm per tahun, tempat terbuka. Tanaman Kacang Tanah membutuhkan tanah yang berstruktur ringan, seperti tanah regosol, andosol, latosol dan alluvial. Kacang tanah dapat dibudidayakan di lahan sawah berpengairan, sawah tadah hujan, lahan kering tadah hujan. Hal yang paling penting diperhatikan dalam pemilihan lahan adalah : Tanah cukup subur, genbur serta bertekstur ringan, tanah berdrainase dan beraerasi baik, serta memiliki pH antara 6,0-6,5 (http://warintek.bantulkab.go.id).

Bercak daun Cercospora spp. dan karat (Pucci­nia arachidis) merupakan penyakit yang dominan pada pertanaman kacang tanah lahan kering maupun lahan sawah (http://balitkabi.litbang.deptan.go.id). Penyakit Bercak daun disebabkan oleh cendawan Cercospora personata. Bercak yang ditimbulkan pada daun sebelah atas coklat sedangkan sebelah bawah daun hitam. Ditengah bercak daun kadang-kadang terdapat bintik hitam dari Conidiospora. Cendawan ini timbul pada tanaman umur 40 -50 hari hingga 70 hari. Cendawan ini dapat dikendalikan dengan Anthmcol atau Daconil (http://warintek.bantulkab.go.id).

Dalam perhitungan penyakit ada dua hal yang dapat kita ketahui, yaitu isidensi penyakit dan severitas penyakit. Isidensi penyakit adalah proposi individual inang atau organ yang terserang penyakit, tanpa memperdulikan seberapa berat penyakitnya. Sedangkan severitas penyakit adalah proposi permukaan inang yang terinfeksi  terhadap total permukaan inang yang diamati.

Tujuan             :

Mengetahui perhitungan severitas penyakit bercak cercospora pada kacang tanah.

Pengolahan data

  • N x V = 10 x 6 = 60
  • Σ n x v = Σ skor
  • Data kelompok 5
Daun 1 =  0+0+0+0 = 0 → 0%

4

Daun 2 = 1+2+2+1 = 1,5 → 6 %

4

Daun 3 = 1+2+2+2 = 1,75 → 6 %

4

Daun 4 = 1+2+2+1 = 1,5 → 6 %

4

Daun 5 = 3+2+2+2 = 2,25 → 10 %

4

Daun 6 = 3+3+2+2 = 2,5 → 11 %

4

Daun 7 = 4+4+4+3 = 3,75 → 26 %

4

Daun 8 = 2+2+3+3 = 2,5 → 11 %

4

Daun 9 = 4+4+4+4 = 4 → 35 %

4

Daun 10 = 6+6+5+4 = 5,25 → 65 %

4

  • Perhitungan severitas penyakit

Severitas penyakit = Σ n x v

N x V

Kelompok 1 = 27 = 45 %

60

Kelompok 2 = 31 = 51,7 %

60

Kelompok 3 = 29 = 48,33 %

60

Kelompok 4 = 22 = 36,67 %

60

Kelompok 5 = 27 = 45 %

60

Kelompok 6 = 24 = 40 %

60

Kelompok 7 = 24 = 40 %

60

  • Rata-rata Severitas Penyakit

Rata-rata Severitas Penyakit = Σ % severitas penyekit

Jumlah kelompok

= 40%+45%+51,7%+48,33%+36,67%+45%+40% 7

= 43,81 %

Pembahasan data

Percobaan perhitungan severitas penyakit mengacu pada derajat atau keparahan daun atau tanaman yang terkena penyakit Bercak Cercospora. Derajat keparahan tersebut dapat di kelompokan dalam skor dan skala kerusakan daun. Terdapat 7 pengelompokan skor atau skala dalam praktikum, yaitu daun yang memiliki presentase kerusakan 1 – 5 % memiliki skor 1; daun yang memiliki presentase kerusakan 6 – 10 % memiliki skor 2 ; 11 – 25 % memiliki skor 3 ; 26-40 % memiliki skor 4 ; 41 -65 % memiliki skor 5 ; 66 -100 % memiliki skor 6. Sedangkan daun yang tidak mengalami kerusakan sama sekali memiliki skor 0. Derajat keparahan daun di tentukan dengan parameter gambar daun yang telah diberikan dalam praktikum.

Pada percobaan severitas penyakit dapat diketahui bahwa data kelompok 2 memiliki severitas paling tinggi dan data kelompok 4 memiliki severitas paling rendah. Hal ini berarti kelompok 2 memiliki densitas penyakit besar (paling banyak penyakitnya), yaitu 51,7 %. Sedangkan kelompok 4 memiliki densitas penyakit paling kecil (paling sedikit penyakitnya) yaitu 36,67 %.

Menurut literatur, penyakit bercak  daun cercospora paling sering ditemui dan sulit untuk dihentikan. Namun para petani biasanya menyemprotkan fungisida (untuk menekan pertumbuhan penyakit bercak daun cercospora) saat tanaman berumur 7, 9, 11 minggu karena pada saat itu tanaman masih dalam massa pertumbuhan vegetatif dan rentan terhadap serangan penyakit. Ketika tanaman telah melewati massa vegetatifnya dan beralih ke massa pertumbuhan generatif maka tanaman tidak perlu diberi fungisida, karena sudah memiliki antibodi sendiri.

KESIMPULAN

Penyakit bercak Cercospora pada kacang tanah memang sering kita temui. Setiap daun yang terkena penyakit bercak cercospora memiliki tingkatan masing-masing. Tingkatan paling rendah adalah 0 dan paling tinggi adalah 6. Untuk menghindari penyakit bercak cercospora ini biasanya para petani menyemprotkan fungisida saat tanaman berumur 7, 9 dan 11 minggu. Cara ini efektif untuk menekan pertumbuhan bercak Cercospora  (http://balitkabi.litbang.deptan.go.id).

DAFTAR PUSTAKA

[Anonim]. BUDIDAYA KACANG TANAH ( Arachis hypogeae L.).[terhubung berkala]. http://warintek.bantulkab.go.id. (25 Maret 2010)

[Anonim]. Pengendalian Penyakit Bercak dan Karat pada Kacang Tanah.[terhubung berkala]. http://balitkabi.litbang.deptan.go.id.(25 Maret 2010)

Categories
Bookmarks